You’re Next

Leave a comment

November 10, 2013 by RitVis

Sebenarnya film ini pernah dipertontonkan 2 tahun lalu pada sebuah ajang film. Karena saya tidak memilki akses untuk diundang sebagai orang yang kompeten menyaksikan film-film pada suatu ajang film, maka seperti penonton film kebanyakan, saya baru dapat menonton filmnya saat telah diputar di bioskop. Itu bukan suatu masalah buat saya, sebagai penonton film yang taat, dengan semangat 45 layaknya laskar Janur Kuning, saya bergegas masuk ke dalam bioskop, memesan bangku paling strategis & nyaman untuk menatap ke layar kaca, memesan popcorn & coca cola, kemudian siap terhibur dengan muncratan-muncratan darah di film ini.

Paul (Rob Moran) & Aubrey Davison (Barbara Crampton) adalah suami istri yang telah menikah selama 34 tahun & telah dikaruniai 4 orang anak yang telah dewasa. Karena menjalani mahligai pernikahan selama 34 tahun adalah hal yang ajaib, dimana kita menghabiskan waktu selama 34 untuk hidup bersama dengan seseorang adalah hal yang super-sangat-membosankan bahkan lebih membosankan dari gaya permainan sepakbola Italia. Maka demi merayakan pernikahan mereka Paul & Aubrey pun mengadakan acara kumpul keluarga dengan mengundang ke-4 anak mereka.

Layaknya acara kumpul keluarga pada umumnya. Meja makan selalu jadi arena perdebatan antara para anak-anak demi membuktikan siapa dari mereka yang paling sukses dihadapan orang tua mereka. Anak-anak keluarga Davison terlibat perdebatan tentang karir mereka. Entah apa yang ada dipikiran mereka, setau saya acara kumpul keluarga adalah acara membosankan, kita akan ditanya tentang progress karir & hidup kita. Ditanya kapan selesai kuliah, kapan dapat kerja atau yang paling sering saya dapatkan adalah pertanyaan kapan nikah? Itulah kenapa kadang saya suka pura-pura sakit atau pingsan setiap datang ke acara keluarga.

Kembali ke kisah keluarga Davison. Saat makan malam berlangsung & masing-masing sedang mempertahakan argumentasinya, tiba-tiba saja Tariq (Ti West) bangkit dari meja makan & menemukan sesuatu aktivitas diluar rumah tersebut. Tariq melihat sekawanan orang memakai topeng binatang melepaskan busur crossbow ke arah jendela tempat dia berdiri. Tariq mati tertembus busur panah kematiannya adalah bayaran yang pantas karena dia sempat menyuguhkan tontonan kurang bermutu di V/H/S & The ABCs Of Death.

Kegaduhan pun kemudian terjadi, Keluarga Davison masih belum mengerti kenapa ada sekumpulan orang mencoba untuk membantai keluarga mereka, yang ada di kepala mereka adalah bagaimana cara meloloskan diri dari tempat itu. Strategi kemudian dibuat begitu meraka sadar bahwa rumah mereka diserang. Mereka mencoba menghubungi pihak berwajib tapi ternyata jaringan sinyal telpon pun putus karena sinyalnya diblok oleh kawanan bertopeng tersebut.

Kekacauan makin timbul ketika satu demi satu anggota keluarga Davison mati terbunuh. Aubrey Davison mati diatas tempat tidur karena ternyata pembunuh bertopeng tersebut tidak hanya berada diluar rumah tapi juga ada yang di dalam rumah. Akhirnya salah satu pacar dari keluarga Davison, Erin (Sharni Vinson) memutuskan untuk membuat benteng pertahanan yang sekaligus berfungsi untuk mengantisipasi & melawan serangan para penjahat bertopeng tersebut. Erin mempraktekkan tehnik pertahanan yang sepertinya lebih dahsyat dari pertahanan Benteng Takeshi.

Tapi apa daya, ternyata semua usaha Erin untuk mempertahankan keluarga Davison pun runtuh, seperti pertahanan kehormatan Selena Gomez untuk tidak termakan rayuan bangsat Justin Bieber, satu demi satu anggota keluarga Davison pun mati. Erin kemudian menemukan fakta bahwa serangan tanpa kejelasan dari penjahat bertopeng ini terjadi dengan alasan harta gono-gini yang menjadi intrik didalam keluarga Davison, sebuah modus yang sama seperti kasus sejumlah selebrit di tanah air.

Setelah menemukan fakta itu mau tidak mau Erin harus berusaha menyelamatkan nyawanya sendiri. Erin melakukan usaha penyelamatan tanpa belas kasihan, Erin mulai menyerang balik dengan membunuh siapa pun yang mencoba membunuhnya. Erin mempertahankan dirinya dengan skill individu yang layak disejajarkan dengan The Bride dalam Kill Bill. Saya cukup kagum dengan kepandaian Erin dalam mempertahankan dirinya & tidak memiliki belas kasihan dalam membacok juga menghantam musuhnya sampai mati. Perempuan seperti Erin adalah perempuan yang membuat hati saya tenang, tak perlu was-was atau takut jika dia pulang malam atau diganggu preman terminal. Erin dapat menjaga dirinya untuk tidak termakan rayuan pria macam Vicky Prasetyo merayu Zaskia Gotik.

Ini adalah film dengan biaya produksi minim namun akhirnya memiliki keuntungan besar, Sutradara sekaligus penulis cerita film ini, Adam Wingard memang belum banyak dikenal orang, namun sepak terjangnya dalam dunia film bergenre horror atau slasher telah sering dibaca oleh para horror mania. Ide cerita dalam film ini sebenarnya seperti kembali ke ide awal film horror atau thriller tentang Home Invasion, jika diibaratkan film ini seperti adegan terakhir film Straw Dogs yang dibuat secara panjang lebar dengan adegan bunuh-bunuhan yang lebih banyak.

Tidak ada hal baru yang ditawarkan dengan cara membunuh gaya baru dalam film ini. Kecuali kalau membunuh orang dengan menancapkan Blender dikepala itu dapat disebut sebuah hal yang baru. Tapi biar bagaimana pun sebagai seorang penggemar Slasher Horror saya cukup terhibur dengan menonton film ini.

Dan kemudian dalam hati saya tau bahwa saya menyukai Sharni Vinson untuk dijadikan Istri. ohh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: